Listrik Yang Tidak Ramah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

View previous topic View next topic Go down

Listrik Yang Tidak Ramah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Post by iman si ketua KANOPI on Tue Jul 29, 2008 3:45 pm

Ketersediaan listrik merupakan bagian yang sangat vital dan strategis bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun tampaknya pemerintah menjadikan kebijakan tenaga listrik sebagai anak tiri. Hal ini bisa terlihat dari krisis energi listrik dan berujung pada pemadaman bergilir yang diperkirakan akan terjadi hingga 2010.
Pemadaman bergilir ini sangat memukul dunia usaha.. Padahal sector industri sangat bergantung pada pasokan listrik oleh PLN. Akibatnya produktivitas dan daya saing dunia usaha kita menjadi terpukul.
Jika tidak mau terganggu aktivitas produksinya maka perusahaan harus membangun sendiri pembangkit listriknya. Selain itu kebijakan pemadaman yang sering kali tanpa pemberitahuan sebelumnya mengakibatkan mesin mesin menjadi cepat rusak dan umur pakainya menjadi lebih pendek. . Hal in tentu saja akan meningkatkan biaya tetap perusahaan (fixed cost) yang akan berimbas pada harga jualnya. Dengan naiknya harga jual produksinya maka perusahaan kita menjadi tergerogoti daya saingnya saat bersaing di pasaran internasional. Belum lagi industri kecil yang tidak bisa membangun pembangkit sendiri akan mengurangi jam produksinya. Padahal sektor industri diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi sesuai target pemerintah yaitu sebesar 6.8% namun tampaknya hal ini makin sulit tercapai.
Jika dilihat dari data maka rasio elektrifikasi (rasio antara pengguna listrik dan total jumlah penduduk) Indonesia sangat rendah, hanya separuh rumah tangga yang dialiri listrik, bandingkan dengan Vietnam yang mencapai 79% atau bahkan China yang sudah mencapai 99 %, tidak heran jika pertumbuhan ekonomi Chna berjalan pesat. Dari segi harga pokok penjualan listrik pun Indonesia menempati peringkat kedua di ASEAN. Vietnam hanya mengenakan tariff sebesar USD 5,2 sen per Kwh, Malaysia USD 6,2 sen sementara Indonesia mengenakan USD 6,3 sen. Ironisnya dengan kenyataan tersebut PLN masih mengklaim bahwa harga jualnya masih dibawah harga produksinya, hal ini menunjukkan inefisiensi dalam tubuh PLN. Dari segi konsumsi listrik per kapita pun Indonesia tergolong rendah yaitu 400 Kwh, bandingkan dengan Filipina yang 500 Kwh, dan Malaysia 2.700 Kwh.
Dilihat dari data yang ada pun tampak bahwa kebijakan listrik kita jalan di tempat dibandingkan dengan negara sekawasan. Kita menghargai upaya yang dilakukan pemerintah seperti insentif tarif listrik dan pemindahan jam produksi. Namun hal ini juga harus diikuti pembenahan internal oleh PLN dan jangan sampai inefisiensi PLN harus ditanggung oleh konsumen. Menurut saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan :
Pertama, audit menyeluruh mengenai kinerja dan laporan keuangan PLN. Hasil dari audit tersebut dapat dijadikan evaluasi bagi manajemen, karena disinyalir bahwa terjadi inefisiensi dan KKN yang hebat dalam tubuh PLN. Kedua, pengalihan bahan baku pembangkit dari BBM ke batu bara dan gas. Saat ini 37% pembangkit masih menggunakan BBM. Terakhir adalah menempatkan orang yang kompeten dalam bidangnya dalam jajaran manajemen PLN dan bukan karena pertimbangan politis
Kita semua berharap agar krisis listrik cepat berlalu sehinngga sector industri bisa berproduksi seperti sedia kala.

iman si ketua KANOPI

Number of posts : 22
Registration date : 2008-06-13

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum